Mengapa Dunia Hanya Selingan dan Shalat adalah Tujuan Utama?
Pernahkah Anda merasa bahwa hidup ini berjalan
begitu cepat, melelahkan, dan berpindah dari satu kesibukan ke kesibukan lain
tanpa henti? Di tengah riuhnya urusan kantor, bisnis, dan keluarga, sebuah
kalimat tamparan rohani hadir menghentak kesadaran kita:
"Kita diciptakan buat shalat. Di luar itu cuma
buat ngisi waktu luang aja dari waktu shalat yang satu ke waktu shalat yang
lain."
Bagi telinga modern, kalimat ini mungkin terdengar
radikal atau bahkan dinilai mengabaikan produktivitas duniawi. Namun, jika kita
menyelami literatur Islam, Al-Qur'an, dan warisan Sunnah, kalimat tersebut
adalah cerminan dari hakikat eksistensi manusia yang paling murni.
Mari kita bedah mengapa shalat adalah poros utama
hidup kita, dan mengapa dunia ini sejatinya hanyalah "waktu tunggu"
di antara 5 waktu sholat.
Poros Eksistensi: Mengapa Kita Ada di Bumi?
Banyak dari kita yang terjebak dalam ilusi bahwa
kita hidup untuk bekerja, membangun karier, lalu menyisipkan shalat di
sela-sela kesibukan tersebut. Kita menaruh shalat sebagai pelengkap. Padahal,
Allah SWT sejak awal telah menetapkan cetak biru (blueprint) penciptaan
manusia:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat: 56).
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat
ini menegaskan tujuan mutlak penciptaan kita adalah tunduk kepada-Nya. Dan
ibadah yang paling utama, yang menjadi tiang penyangga seluruh bangunan Islam,
tidak lain adalah shalat.
Rasulullah
SAW bersabda:
رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ
"Inti dari segala urusan adalah Islam, dan
tiangnya adalah shalat." (HR.
Tirmidzi).
Sebuah bangunan tanpa tiang akan roboh. Maka, hidup
tanpa shalat atau menempatkan shalat sebagai prioritas kesekian adalah usaha
menyusun reruntuhan hidup yang sia-sia.
Membalik Perspektif: Jadwal Kerja Mengikuti Shalat,
Bukan Sebaliknya
Jika shalat adalah tujuan utama, maka struktur hari
kita seharusnya berubah total. Kita tidak lagi berkata, "Saya akan
shalat setelah rapat ini selesai," melainkan, "Saya akan rapat
setelah shalat Zuhur selesai."
Mari kita visualisasikan hidup kita sebagai sebuah
garis waktu linier. Alih-alih melihat hari kita sebagai "Waktu Kerja yang
Dipotong Shalat", ubahlah cara pandang tersebut menjadi "Waktu
Shalat yang Diselingi Aktivitas Dunia".
Waktu di antara Subuh ke Zuhur, Zuhur ke Asar,
hingga kembali ke Subuh, sejatinya hanyalah ruang tunggu (waiting room).
Mengapa ini penting? Rasulullah SAW mengingatkan kita betapa berharganya hamba
yang hatinya terpaut pada waktu shalat berikutnya:
لَا يَزَالُ الْعَبْدُ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَ فِي مُصَلَّاهُ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ
"Seorang hamba senantiasa dihitung berada
dalam shalat selama ia berada di tempat shalatnya untuk menunggu shalat
(berikutnya)." (HR.
Muslim).
Secara spiritual, ketika Anda sedang bekerja di
depan laptop namun hati Anda konstan mengingat, "Dua jam lagi
Asar," maka aktivitas mengetik Anda dihitung sebagai pahala orang yang
sedang bersujud. Luar biasa, bukan?
Seni Menghidupkan "Waktu Luang" Menjadi
Ibadah
Apakah prinsip ini membuat umat Islam menjadi malas
dan meninggalkan dunia? Justru sebaliknya. Islam tidak menyuruh kita menjadi
rahib yang hanya berdiam diri di masjid.
Melalui konsep Niat (Niyyah), Islam
memberikan mukjizat spiritual: kemampuan mengubah "waktu luang
antar-shalat" menjadi ladang pahala.
Rasulullah
SAW bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
"Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung
pada niatnya." (HR.
Bukhari & Muslim).
- Ketika Anda mencari nafkah
di antara Zuhur dan Asar dengan niat memberi makan yang halal untuk
keluarga, maka waktu luang itu menjadi ibadah.
- Ketika Anda tidur di antara
Isya dan Subuh agar tubuh kuat untuk qiyamul lail dan shalat Subuh
berjamaah, maka tidur Anda menjadi ibadah.
Dunia ini berharga hanya jika ia melayani akhirat
kita. Sebaliknya, dunia akan menjadi laknat jika ia menjauhkan kita dari
komitmen sujud kita.
"Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu terlaknat
dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan
apa yang menghantarkan kepadanya..." (HR. Tirmidzi).
Kembali ke Poros
Mulai hari ini, mari kita ubah narasi hidup kita.
Kita tidak sedang sibuk bekerja lalu diganggu oleh suara azan. Kita adalah
hamba Allah yang diciptakan untuk bersujud, yang sedang diberi waktu luang oleh
Allah untuk mengurus dunia sejenak, sebelum kembali menghadap-Nya di sajadah
berikutnya.
Saat kita memperbaiki shalat kita, Allah akan
memperbaiki sisa waktu luang kita. Sebab, barangsiapa yang sibuk memperbaiki
hubungannya dengan Allah (lewat shalat), maka Allah akan membereskan urusannya
dengan manusia (dunia).